Senin, 24 Desember 2012

Anugerah Terindah dari Tuhan. part 2


 Hari demi hari, bulan demi bulan berganti. Tidak seperti biasanya, sore itu Lani merasa mual. Mual sekali. Pusing. Dan ia teringat sesuatu. Ia mengambil kalender di rumahnya. Sudah dua bulan ia begini. “Tidak mungkin”, sergahnya dalam hati. Sekelebat muncul sebuah bayangan terburuk yang pernah ia bayangkan ketika ia memutuskan untuk bekerja sebagai pelacur. Ia berlari keluar rumah. Membeli obat pusing untuk meringankan sakitnya.
            Ah, rasanya seperti diterpa puting beliung. Tak bisa ia bayangkan apa jadinya beberapa bulan nanti. Lani hamil. Ya, sepertinya itulah bayangan kelam yang akhirnya datang juga. Apa yang harus ia lakukan? Atau setidaknya, apalah yang bisa ia lakukan untuk saat ini? Lani tak kuat lagi berpikir. Wanita cantik itu kini terbaring di kamarnya. Menahan sakit yang ia rasakan. Entah sakit hati, jiwa, atau pikiran. Yang pasti, ia merasa dunia berhenti berputar selama beberapa detik.
            Suara adzan Isya membangunkan Lani dari pingsannya. Suara yang biasanya terlupakan bagi Lani. Yang mungkin sudah asing bagi telinga Lani. Ia menangis. “ibu…” suara lirih itu keluar dari mulut Lani. Lirih saja. Ia teringat ibunya. Ibunya yang meninggal beberapa tahun lalu..  Sekelebat ia mengingat kejadian itu.
*****
          Ketika ia duduk di bangku SMA. Pulang sekolah tepatnya. Mungkin itu saat-saat tersulit baginya. Ayahnya yang terkenal arogan mengamuk. Entah apa yang membuatnya mengamuk tak terkendali. Mungkin karena perusahaan Ayah Lani bangkrut da seketika membuat semuanya habis. Apalagi sang Ayah terkejut ketika tahu Ibu Lani baru membeli sebuah perhiasan berlian seharga miliyaran rupiah dan menyuruh Ayahnya membayar. Mereka bertengkar. Kedua panutan Lani bertengkar di mata kepala Lani, dan “prang!” bunyi sebuah vas bunga dari tanah liat menghampiri wajah Ibu Lani. Ibu Lani di bawa ke rumah sakit untuk mendapat pengobatan dan ternyata nyawanya tidak dapat tertolong lagi. Ia bingung. Menangis, berteriak seperti orang gila. Mungkin itulah Lani saat mendengar hasil pemeriksaan dokter. Ia mencoba tabah walau sulit.

            Hari-demi hari ia jalani bersama Ayahnya. Ya, hanya bersama ayahnya yang tak sengaja pernah menjadi seorang pembunuh. Ia mencoba memaafkan ayahnya walau sulit. Memang bagaimana pun juga saat itu ayahnya sedang khilaf dan tak sengaja. Ayah Lani pun kini sudah bertaubat dan minta maaf. Sampai akhirnya, penyakit jantung membuat Ayah Lani pergi untuk selama-lamanya. Dan Lani pun, kini sendiri. Meratapi nasibnya ini.
            Mungkin kejadian itulah yang membuat hidupnya kini berantakan. Hancur. Trauma masa lalu. Hidup mewah tak bisa ia tinggalkan sehingga ia memutuskan untuk menjual diri demi memenuhi kebutuhan mewahnya. Dan sekarang, ia hanya bisa terus menangis. Ia pun bangkit, dan mencoba menenangkan diri. Di ambillah air wudlu. Air yang dirasa sangat segar bagi Lani saat itu. Yang tiap basuhannya membuat Lani semakin tenang dan merasa dekat dengan Allah. Lani tahu, Allah tidak akan pernah tidur. Selalu melihat hamba-Nya.
*****
            Sebenarnya Lani malu. Ia telah lama meninggalkan kewajibannya itu. “tidak ada kata terlambat, terimalah hamba Ya Allah” Ia pun salat Isya. Mengenakan mukena yang entah sudah berapa tahun tidak ia kenakan. Mungkin terakhir kali ia salat adalah ketika ia masih bersama alm.ayahnya. Selesai salat, bersujudlah perempuan itu. Tangisnya pecah memohon maaf pada Yang Kuasa. “Ya Allah, terimalah ibadahku, ampuni aku ya Allah” Terus ia menangis dan berdoa. Setelah itu, ia memegang perutnya. Ya, ada sebuah nyawa yang sedang dirajut Tuhan. “Nak..” kembali, lirihan suara Lani bersama isak tangisnya terpecah. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. “Ya Allah, mudahkanlah hamba” ucapnya. Ia pun kembali berbicara pada cabang bayinya itu, “Ibu akan membesarkan kamu nak, ibu sayang kamu”. Lani pun terus menangis. Menangis lega. Entah siapa ayah bayi itu, ia tetap bertekad membesarkan bayi yang sedang dikandungnya itu. Ia pun berhenti menjadi pekerja hina. Ia sekarang lebih memilih mencuci baju tetangga dan berjualan kue dari kampung ke kampung asalkan halal. Ia bertaubat.
*****
            Bulan demi bulan berganti, inilah saatnya. Ia mendapat karunia yang terhebat sepanjang hidupnya. Seorang bayi laki-laki lahir. Normal dan sempurna untuk ukuran manusia. Tampan. Lani merasa lega, “Alhamdulillah” ucapnya. Seiring berjalannya waktu, anak laki-laki itu tumbuuh besar. Umurnya sudah 6 tahun sekarang. Raka namanya. Ia sudah bersekolah di SD kecil di kampungnya itu. Dan ia tumbuh menjadi anak yang pintar dan rajin.
            Pekerjaan Lani pun sudah lumayan sekarang. Ia menjadi seorang penjaga toko milik seorang juragan di kampungnya. Dan ia juga mampu mebiayai sekolah anaknya tanpa tersendat – sendat walau hidupnya pas-pasan. Dan Raka? Raka bukanlah tipikal anak manja. Uang jajannya sesekali ia tabung. Masih kecil tapi pemikiran sudah sangat dewasa. Ia selalu teringat ketika ia sakit, ibunya meminjam uang ke tetangga demi pengobatannya. Ia pun sering memberikan tabungannya itu kepada sang ibu. “Untuk bayar utang Raka sama Om sebelah.” Ya, begitulah suara imut Raka kecil ketika ia memberikan sedikit uangnya untuk sang Ibu. Untuk membayar hutang kepada tetangga sebelah karena biaya pengobatannya. Lani hanya bisa memeluk anaknya itu. Dan menangis. “Ya Allah, terimakasih memberiku anugerah yang terindah ini”, ucapnya sambil menciumi kening putranya itu.
*****
            Hingga suatu hari, Raka pulang dari sekolahnya. Ia mendapatkan suatu pemandangan yang tak biasa. Oh Tuhan, ada apa ini? Rumah Raka dipenuhi kerumunan orang dan tetangga yang panik. “Itu anaknya, itu anaknya” ucap seorang ibu-ibu panik. Raka kecil melepas sepatu dengan cepat dan melewati kerumunan orang-orang di rumahnya. Ia mendapati tubuh Ibunya, ibu yang amat disayanginya tidak berdaya. Tidak sadarkan diri. Ia menangis. “IBUUUUUUUUU” tangisnya pecah, teriakannya memuncak. Semua tetangga mencoba menenangkan Raka. “Ibu kenapa, pak?” tanya Raka kepada salah seorang tetangganya. “nak, tadi ibu kamu jatuh. Pas bapak mau beli makanan di warung, ibu kamu kesandung lalu teriak. Pas bapak lihat, ibu kamu udah pingsan, kepalanya berdarah. Udah udah, gak apa-apa nak. Ayo kita bawa ibu kamu ke puskesmas”.
            Lani pun di bawa ke puskesmas. Ibu muda itu terkulai lemah. Di puskesmas, dokter menyatakan tidak berani berbuat apa-apa, karena bagian kepala sangatlah vital. Akhirnya Lani di bawa ke rumah sakit terdekat dengan surat keterangan miskin. Dan Lani pun mendapat pengobatan. Tapi sayang, dokter memvonis Lani lumpuh di sebagian tubuhnya.
****
            Raka kecil pun membawa Lani pulang ke rumahnya. Dibaringkannya dengan hati-hati wanita lemah itu. Tak disangka, Raka tidak menangis. Ia sangat tegar. DIcium kening ibunya itu. “bu, ibu cepet sembuh ya, raka sayang ibu”. Mengalir. Air mata itu mengalir juga akhirnya.  “iya, nak” Lani memeluk anak sematawayangnya itu.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar