cerpen lamaa anget. dibaca-baca agak lebay ceritanya. tp diilhami dr kisah nyata. versi..agak kelabu gimanaaa gitu wkwk. ada yg dikarang kayaknya. yagitulah biar dramatis wkwk
Abu-Abu
Perkenalkan namaku Amalia Yuanita Dewanti. Aku biasa dipanggil Amel atau kadang Yede di sekolah. Aku juga biasa dipanggil Lia di rumah. Mungkin kalian bingung dengan nama Yede. Nama panggilan anehku itu terbit ketika aku duduk di kelas 7, saat masih SMP. Aku sekelas dengan anak bernama Amalia Cipta Sari, ketika SD kita sama-sama dipanggil Amel. Supaya tidak membingungkan, teman-temanku membuat inisiatif sendiri, mereka memanggil kami dengan inisial nama belakang kami. Yuanita Dewanti, diawali huruf Y dan D. Awalnya aku sama sekali tidak suka dengan nama itu, tapi lama-lama mulai terbiasa. Jadi seperti presiden yang disingkat SBY, sedangkan aku AYD hahaha.
Sekarang aku duduk dikelas X, di SMAN 81 Jakarta. Dulu waktu SMP aku sering memuji-muji sekolahku ini. “It’s my dream school!” bisa dibilang begitu. Perjuangan masuk sekolah ini memang tak semudah yag aku kira sebelumnya, apalagi saat aku tahu nem ku yang pas-pasan. Belum lagi ini adalah sekolah RSBI, kemampuan bahasa Inggrisnya itu yang ditantang. Sedangkan aku? Dari semua nilai UN ku, bahasa Inggris adalah nilai terburuk hahaha. Apalagi waktu tes wawancara untuk masuk sekolah ini. Itu sesuatu yang paling membuatku pasrah. Entah lolos entah tidak, secara pas gurunya bilang “describe yourself”, aku hanya bisa menjawab “I’m a student and I hate English so much”. Ya, dari beberapa kalimat yang ku ucapkan saat itu, itulah yang paling menempel di otakku. Aku bingung, kenapa aku sama sekali tidak berpikiran untuk bilang “I’m student and I’m beautiful”. Suasananya memang sama sekali tidak mendukungku untuk narsis saat itu.
Di SMA, aku dikenal sebagai anak yang bawel dan berisik. Tidak jauh beda dengan penilaian teman-teman SMP ku dulu. Aku ingat, dulu temanku yang namanya Nadiyah Rahmah bilang kalau hidupku itu selalu ada cerita baru, sampai-sampai dia menuliskan di blognya tentang kecurigaan adanya tali persaudaraan antara aku dan Raditya Dika, penulis novel kocak yang terkenal. Ada lagi, teman SMP ku juga, namanya Wibias Muliawan, dia pernah menelponku akhir-akhir ini untuk curhat tentang pacarnya si *biiip*. Dan dari suaraku ditelepon saja, dia langsung bilang “ternyata lo masih ekspresif aja ya kayak dulu”. Haha, begitulah. Oh iya, satu lagi. Artika Nuswaningrum, teman SMP ku juga. Dia pernah bilang kalau hidupku sepertinya selalu berwarna. Yeay, kuakui itu.
Merah muda, oranye, hijau, biru, hm sepertinya warna-warna itu sudah pernah menjadi kisahku. Dan mungkin warna – warna itulah yang ada dibenak teman-temanku tentang kisahku. Tapi, ada satu warna lagi. Abu-abu, aku pun tak luput dari warna yang satu itu. Warna favoritku, tapi melambangkan sesuatu yang kelambu.